 | Senin, 22 September 2008 NEWS: Bursa Masih Menunggu
Deg deg plas... Itulah gambaran yang terjadi di Bursa Efek Indonesia pekan lalu. Akibat terimbas bertumbangannya insitusi keuangan di Amerika Serikat, Indeks Harga Saham Gabungan bahkan sempat terpuruk ke bawah level 1.600 pada perdagangan sesi pagi Rabu (16/9), sebelum akhirnya pada penutupan IHSG berhasil bangkit, terangkat kabar BUMN akan melakukan buyback (pembelian kembali) saham.
Setelah itu, aksi penyelamatan raksasa asuransi AS AIG, kemudian bersatunya bank-bank sentral negara besar, kemungkinan Pemerintah Amerika Serikat mengambil alih aset-aset busuk perusahan keuangan di negeri Uwak Sam tersebut, serta didalam negeri Bank Indonesia memangkas bunga repo, IHSG kembali merangkak naik dan akhirnya pada perdagangan Jumat (19/9), berhasil melejit 5,92 persen ke posisi 1.891,732.
Dalam sepekan, IHSG berhasil bertambah 4,86 persen dibanding pekan sebelumnya. Sedangkan indeks Kompas100 menguat 6,29 persen dibanding penutupan 12 September lalu, serta indeks LQ45 melonjak 7,51 persen.
Pekan ini, IHSG sepertinya berpotensi meneruskan penguatannya, meski masih ada bayang-bayang krisis keuangan global dan sangat bergantung pada situasi penangan krisis keuangan ini dimulai, yakni di Amerika Serikat.
Sementara itu bursa saham Wall Street AS, pada penutupan Jumat (19/9) berhasil menguat seiring dengan rencana penyelamatan oleh Pemerintah AS terhadap perusahaan keuangan mereka disana, pascabangkrutnya perusahaan investasi terbesar keempat di AS, Lehman Brothers.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 368,75 point (3,35 persen) pada 11.388,44. Indeks Standard & Poor’s 500 bertambah 48,57 poin (4,03 persen) menjadi 1.255,08. Serta indeks komposit Nasdaq menguat 74,80 poin (3,40
persen) ke posisi 2.273,90.
Secara keseluruhan pekan lalu, The Dow masih turun 0,29 persen, setelah diawal pekan sempat melorot 504 poin, yang merupakan performance terburuk sejak 11 September 2001. Sementara indeks S&P 500 berhasil menguat 0,27 persent dan Nasdaq bertambah 0,56 persen.
Pasar menunggu keputusan kongres untuk menyetujui rencana Pemerintahan Bush menyediakan dana 700 miliar dollar AS untuk membeli aset-aset bermasalah dari perusahaan finansial disana.
Sumber: KOMPAS
|