 | Senin, 7 September 2009 NEWS: Batam ekspor arang ke Eropa
Selain menjadi kota industri perakitan elektronik dan perkapalan, Kota Batam ternyata telah mampu menjadi daerah penghasil arang berkualitas ekspor yang sudah dikirim ke Eropa dan Timur Tengah.
Toni Lee, Direktur PT General Carbon Industry (GCI), mengungkapkan dalam empat tahun terakhir perusahaannya sudah mampu memproduksi arang dengan kualitas ekspor.
"Kami sudah mengekspor arang ini ke negara-negara Eropa, Timur Tengah dan Asia," ujarnya, kemarin.
Dijelaskannya, Sejak beroperasi pada 2004 lalu, pabrik GCI sudah memproduksi sekitar 300 ton arang per bulan dan hanya dipasarkan ke luar negeri antara lain ke Norwegia, Denmark, Jerman, Swedia, Italia, Inggris, Austria , Belanda, Belgia dan Prancis.
Selain itu, arang buatan GCI juga katanya sudah memiliki pelanggan tetap di negara Singapura, Korea Selatan, Jepang, Lebanon, Syria dan Afrika Selatan.
Di negara-negara tersebut, kelima jenis arang produksi GCI, yakni Disc Type, Cylinder Type, Cube Type, Pillow Type dan Activated Carbon itu digunakan untuk berbagai keperluan.
Seperti untuk memasak, memanggang, pemanas, bahan rokok serta untuk berbagai keperluan lainnya. Sejauh ini katanya bahan baku arang GCI masih memadai dan belum mengalami hambatan yang berarti karena melibatkan para petani kelapa secara langsung.
Arang GCI dibuat dari batok/tempurung kelapa yang sebagian besar dipasok dari Tembilahan dan Pulau Kundur. Sedangkan sebagian kecil lainnya dipasok dari pulau-pulau sekitar serta dari Pulau Batam sendiri.
Para petani, lanjutnya, juga diberikan harga yang cukup baik dimana untuk batok kelapa yang dipasok, GCI memberikan harga sebesar Rp2000-2100 per kilogram. Setelah dibeli, batok kelapa tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan selanjutnya dikemas dengan sangat rapi sebelum dikirim.
Toni menjelaskan bahwa keinginan GCI untuk memproduksi arang adalah karena masih besarnya pangsa pasar arang di dunia.
"Kapasitas produksi arang yang sudah kami hasilkan ini saja belum sampai memenuhi 5 persen dari kebutuhan arang dunia," ujarnya.
Karena itu, katanya, permintaan arang GCI semakin meningkat dan bahkan sudah melebihi kapasitas yang dapat dihasilkan. Di mana GCI terpaksa menahan keinginan sejumlah perusahaan dari negara-negara tersebut yang ingin menambah pasokannya atau adanya pelanggan baru.
"Yang baru tandatangan kontrak ada dua perusahaan dari Eropa dan satu dari Timur Tengah, sedangkan yang waiting list sudah mencapai 90 konteiner," paparnya.
Tambah kapasitas pabrik
Untuk itu, pada akhir tahun ini GCI berencana untuk menambah kapasitas pabriknya yang beroperasi di kawasan Tanjung Uncang, Batam tersebut.
Lusia Efriani, Public Relation Manager GCI, mengungkapkan bahwa perusahaannya akan menggelontorkan tambahan investasi sekitar US$2 juta untuk rencana itu.
"Penambahan kapasitasnya sudah positif, begitu juga dengan tambahan investasinya. Akhir tahun ini direncanakan sudah berjalan," katanya.
Jika rencana tersebut terrealisasi, lanjutnya, GCI diharapkan mampu mendongkrak produksi arang hingga 50 persen dari kapasitas produksi saat ini.
Tambahan investasi itu pun lebih besar dari modal awal yang dikeluarkan GCI pada saat didirikan yang hanya sebesar US$1,2 juta.
Selain menggenjot produksi, penambahan kapasitas pabrik ini juga menurut Lusia, secara otomatis akan menambah pendapatan perusahaan milik Avava Group International itu.
"Kalau sekarang ini pendapatan perusahaan sekitar Rp1 miliar per tahun dan kami estimasi akan meningkat dua kali lipat seiring dengan suntikan investasi," paparnya.
Begitu juga dengan jumlah karyawan yang bekerja di pabrik dimana dia memperkirakan bahwa penambahan kapasitas itu juga akan membutuhkan tambahan karyawan sekitar 30 orang.
Dengan begitu, para karyawan yang bekerja di pabrik arang GCI pada tahun depan diperkirakan akan berjumlah hampir 100 orang mengingat saat ini jumlah mereka lebih dari 50 orang.
Selain itu, penambahan kapasitas pabrik itu juga diyakini Lusia akan menambah pendapatan para petani kelapa.
Mengingat kebutuhan pasokan bahan baku juga katanya akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah produksi.
Sumber: Koran Peduli
|