 | Rabu, 25 Juni 2008 NEWS: Indonesia Dikuasai Tiga Pemain Besar
JAKARTA (BP) - Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai banyaknya perusahaan asing yang masuk ke Indonesia tidak perlu ditakuti asal membawa kebaikan bagi rakyat dan bangsa. Justru dia berharap Indonesia tidak dikuasai tiga pemain besar saja, yaitu group Bosowa, Bukaka dan Bakrie.
"Yang berkuasa sekarang 3B (tiga B) yaitu Group Bosowa, Bukaka dan Bakrie, hampir semua produk yang masuk Indonesia harus melalui tiga perusahaan itu," ujar Faisal dalam seminar "Kepastian Investasi dan Regulasi Pemerintah" di Jakarta (24/6) kemarin. Group Bukaka didirikan oleh Wapres Jusuf Kalla, sedangkan Group Bosowa dimiliki oleh pengusaha Aksa Mahmud dan Group Bakrie dimiliki oleh Menko Kesra Aburizal Bakrie yang merupakan orang terkaya se-Asia Tenggara.
Menurut dia, dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) yang diterbitkan pemerintah, sudah tidak ada lagi celah dispute atau yang menimbulkan interpretasi berbeda tentang sektor tertutup atau terbuka dengan syarat bagi masuknya investasi asing.
"Tapi perusahan asing seringkali masih disalahkan atau dijelek-jelekkan di Indonesia, padahal mereka belum tentu berniat jelek," lanjutnya.
Dengan begitu, dia yakin tidak ada yang perlu ditakutkan mengenai masuknya investasi asing. Masuknya investasi asing justru akan bisa meningkatkan perekonomian Indonesia.
Sebagai contoh, ekspor China hampir mayoritas atau lebih dari 55 persen berasal dari perusahaan multinasional (asing). Sedangkan ekspor Indonesia baru 15 persen yang berasal dari perusahaan multinasional. "Baru segitu aja sudah takut," tegasnya.
Yang penting menurut dia, masuknya investasi asing tidak dilakukan untuk kepentingan pribadi atau golongan orang saja. Seperti yang terjadi dalam gonjang-ganjing rencana penjualan saham BUMN baja PT Krakatau Steel, yang kemungkinan akan digunakan untuk membiayai biaya pemilihan umum salah satu partai besar. "Kan lumayan kalau broker-nya dapat satu persen saja, itu sudah bisa untuk biaya pemilu," cetusnya.
Faisal menambahkan, Indonesia sebenaranya mulai dilirik kembali oleh investor-investor asing, akibat perubahan iklim investasi di China dan Vietnam. Saat ini belasan perusahan di China ingin hengkang karena naiknya gaji buruh, sementara di Vitenam harga-harga tanah naik karena dampak dikuranginya subsidi pemerintah. "Sayangnya ketika mereka mau masuk Indonesia, listriknya mahal, bayar tiga kali lipat karena tarif multiguna," jelasnya.
Sumber: BATAMPOS
|