 | Kamis, 5 Juni 2008 NEWS: Kadin Sewot Sama Singapura
Pemerintah Singapura berencana memindahkan aktivitas feri dari Batam ke pelabuhan Tanah Merah. Sebelumnya penumpang feri dari Batam turun di Harbour Front, Singapura. Terkait masalah ini, Kadin Batam sewot sama negara Singa itu.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Nada F Soraya, menilai, kebijakan tersebut akan merugikan warga Batam karena waktu tempuh dari Batam semakin jauh.
"Kita sudah dua kali mengirimkan surat ke Duta Besar (Dubes) Indonesia di Singapura agar melobi, supaya kebijakan tersebut jangan dilakukan. Karena akan menambah biaya bagi warga Batam yang ke Singapura. Apalagi, saat ini menjelang pelaksanaan Free Trade Zone (FTZ)," ujar Nada Soraya kepada wartawan di Kantor Bank Indonesia (BI), Rabu ( 4/6).
Menurut Ketua Batam Tourism Promotion Board (BTPB), Rahman Usman, pemerintah Singapura akan menjadikan Harbour Front sebagai pelabuhan cruise untuk kapal-kapal pesiar. Apalagi, kedekatan Harbour Front dengan Pulau Sentosa yang sedang dibangun pemerintah Singapura tempat kasino, memudahkan para wisatawan cruise ke tempat tersebut.
Meskipun pemindahan Harbour Front ke pelabuhan Tanah Merah, menurut Rahman, Provinsi Kepri harus mempersiapkan sarana dan prasarana menggaet turis yang masuk ke Singapura tersebut agar datang ke Kepri. "Itu kebijakan negaranya, tapi itu menjadi suatu ancaman bagi kita. Ancaman itu harus kita jadikan peluang, untuk membuat terobosan baru bidang kepariwisataan," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, tidak begitu mempersoalkan kebijakan pemindahan Harbour Front ke pelabuhan Tanah Merah. Sebab, kebijakan itu merupakan wewenang negara Singa tersebut.
Menjadikan Harbour Front untuk tempat kapal pesiar dan memindahkan pelabuhan pintu masuk kapal dari Indonesia ke Tanah Merah, ujar Nada, kalau dari Pelabuhan Nongsa Point Marina justru lebih dekat. Nada mengaku, ia mengetahui rencana tersebut dari pemerintah Singapura melalui media cetak yang terbit di negara jiran tersebut.
"Jumat ini saya akan ke Singapura untuk ketemu Dubes Indonesia, untuk mengetahui masalah ini lebih jauh. Saya sudah dua kali kirim surat atas nama Kadin Batam, tetapi belum ada jawaban. Kita kecewa jika kebijakan itu terwujud," tegasnya lagi.
Nada juga menjelaskan, nantinya, pemerintah Singapura ingin menerapkan sistem pembelian tiket melalui internet. Dengan sistem demikian, menurut Nada, akan memberatkan penumpang dari Indonesia. Apalagi, pajak pelabuhan (sea port tax) ke Singapura sudah naik sejak 1 Juni yang lalu besarnya 21 dolar Singapura.
Sedangkan menurut Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, andaikata kebijakan Singapura itu jadi, masyarakat Batam bisa menggunakan pelabuhan feri di Nongsa karena lebih dekat. "Saya rasa kebijakan tersebut tak masalah. Malah untung untuk Batam. Sebab, uang Indonesia tak banyak habiskan di Singapura," kata Dahlan.
Lebih lanjut dikatakan Dahlan, selama ini pelabuhan Nongsa kurang optimal. Jika feri harus berlabuh di Tanah Merah, maka pelabuhan Nongsa akan ramai. "Sehingga pelabuhan itu baru optimal," ungkapnya.
Lain halnya keterangan Rudy Chua yang juga anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, pemerintah Singapura tak jadi memindahkan aktivitas ke Tanah Merah. Pemerintah Singapura hanya menambah kualitas layanan pembelian tiket melalui internet.***
Sumber: BATAMPOS
|