 | Kamis, 26 Juni 2008 NEWS: Asuransi Jiwa Melesat
JAKARTA (BP) - Gejolak pasar finansial tak begitu memengaruhi kinerja asuransi jiwa. Terbukti, sepanjang kuartal pertama 2008, total pendapatan premi mereka mencapai Rp13,9 triliun, atau melesat 61,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp8,7 triliun.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Eddy K.A. Berutu menyatakan, dari total pendapatan premi tersebut, Rp10 triliun di antaranya adalah pendapatan premi produksi baru (new business). "Ini menjadi bukti bahwa inflasi dan gejolak pasar finansial tidak berpengaruh terhadap industri asuransi jiwa," terangnya seusai paparan publik AAJI di Jakarta kemarin (25/6). Hanya saja, terasa ada ironi di balik mengkilapnya pertumbuhan industri tersebut. Yaitu, tidak sebandingnya antara pertumbuhan premi dan jumlah tertanggung.
Per kuartal pertama 2008, jumlah tertanggung (insured) atau pemegang polis, baik secara individu maupun grup, malah turun 25,71 persen. Yaitu, dari 34,54 juta tertanggung pada kuartal pertama 2007 menjadi 25,66 juta. Dari 25,66 juta tersebut, 7,1 juta di antaranya adalah tertanggung perorangan.
Fenomena tersebut, kata Eddy, merupakan cerminan bahwa pertumbuhan asuransi jiwa perlu ditingkatkan kualitasnya.
"Rata-rata premi per orang memang meningkat, tapi itu untuk masyarakat golongan tertentu saja, masyarakat yang dananya memang besar," jelasnya. Dengan kata lain, kata dia, pertumbuhan industri tersebut sama sekali tidak merata, hanya berputar di kalangan menengah ke atas saja. Eddy mengakui jika penetrasi asuransi memang masih sangat rendah. "Saat ini baru tiga persen dari total penduduk Indonesia secara individu yang menjadi pemegang polis," tuturnya.
Terlepas dari hal tersebut, growth industri asuransi jiwa memang tergolong spektakuler. "Prestasi dalam enam bulan pada tahun lalu bisa dicapai hanya dalam tiga bulan pada awal tahun ini," ujarnya.
Tahun ini, AAJI menargetkan pertumbuhan premi sebesar 60 persen dibandingkan posisi tahun lalu yang sebesar Rp 44,4 triliun. Tahun lalu sendiri, pertumbuhan asuransi jiwa mencapai 67 persen dibandingkan capaian 2006. Eddy yakin, justru di tengah ketidakpastian perekonomian, upaya proteksi harus dilakukan oleh masyarakat.
"Ketidakpastian justru membuat kesadaran masyarakat terhadap risiko yang ada semakin meningkat," ujarnya.
Sementara itu, imbal hasil (return) produk-produk unit link asuransi jiwa pada kuartal pertama 2008 menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.. Penurunan hasil investasi tersebut merupakan imbas dari kondisi pasar yang masih tak kondusif.
"Namun, return tersebut akan pulih kembali dalam jangka panjang. Secara akumulatif akan sama saja dalam jangka panjang," ujarnya.
Nilai investasi industri asuransi jiwa pada kuartal pertama 2008 mencapai Rp91,9 triliun, tumbuh 38,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 66,5 triliun.(jpnn)
**
Investasi tersebut tersebar ke berbagai instrumen, mulai efek-efek, reksadana, deposito, SBI, SBPU, hingga pinjaman hipotik. Efek-efek dan reksadana merupakan instrumen yang paling dominan ditempati oleh dana investasi industri asuransi jiwa.
Eddy mengemukakan, menghadapi kondisi pasar yang tak kondusif, pemain di industri asuransi jiwa akan melakukan reklasifikasi terhadap portofolio investasinya. Hal ini dilakukan demi menjaga kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban, khususnya untuk membayar klaim. "Pemain di industri asuransi tetap melakukan mix invesment untuk mendapatkan imbal hasil yang sesuai ekspektasi," terangnya. (jpnn)
Sumber: BATAMPOS
|