 | Kamis, 31 Juli 2008 NEWS: Harga Minyak Bisa 70 Dollar AS
JAKARTA, KAMIS - Presiden Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC Chakib Khelil mengatakan, anjloknya harga minyak menunjukkan fluktuasi harga minyak yang terjadi saat ini disebabkan faktor nonfundamental. Bila masalah itu teratasi, harga minyak bisa berada pada level 70-80 dollar AS per barrel.
"Bagaimana bisa harga minyak turun sampai 25 dollar AS per barrel hanya dalam sehari kalau memang penyebabnya adalah faktor fundamental, sedangkan kita tahu bahwa tidak ada penambahan suplai secara tiba-tiba ataupun penurunan permintaan secara drastis," ujar Chakib di Jakarta, Rabu (30/7).
Menurut Chakib, yang juga Menteri Energi dan Pertambangan Aljazair itu, harga minyak terus turun karena pasar berekspektasi positif terhadap sejumlah isu geopolitik, seperti kemungkinan krisis Iran bisa dihindari ataupun upaya Amerika Serikat mengatasi dampak krisis surat utang berbasis kredit kepemilikan rumah berisiko tinggi (subprime mortgage).
"Apabila masalah nonfundamental itu bisa diatasi, kita akan melihat harga minyak pada kisaran 70-80 dollar AS per barrel dalam jangka panjang. Namun, ini hanya perkiraan, kapan itu bisa terjadi, tergantung pada seberapa cepat masalah-masalah itu bisa diatasi," kata Chakib.
Ia juga menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah dunia, yang tidak menguntungkan produsen atuapun konsumen, tidak ditentukan OPEC semata. Alasannya, OPEC hanya mengendalikan 40 persen produksi dunia. Selebihnya ditentukan oleh sejumlah faktor, seperti kecenderungan pasar dan kondisi geopolitik dunia.
OPEC, ujar Chakib, tidak menargetkan harga minyak di level tertentu. "Tugas kami adalah menyuplai, berapa pun harga minyak," kata Chakib.
Dalam jangka panjang, menurut Chakib, produsen dan konsumen minyak harus bersama-sama mencari titik temu atas isu yang fundamental, yaitu transparansi data kebutuhan minyak negara-negara konsumen dan kebijakan energi negara konsumen untuk memenuhinya.
Kepastian data konsumsi
Negara pengekspor minyak, seperti anggota OPEC, membutuhkan kepastian data konsumsi untuk menyesuaikan dengan investasi peningkatan produksi yang akan mereka lakukan. "Dalam lima tahun ke depan untuk meningkatkan produksinya sebesar 4 juta barrel per hari, OPEC berencana menginvestasikan 162 miliar dollar AS di hulu dan 60 miliar dollar AS di hilir. Itu dalam kondisi yang tidak menentu seperti sekarang, yakni kebijakan energi negara konsumen belum jelas. Kalau permintaan tidak sesuai dengan perkiraan, investasi yang telah dikeluarkan menjadi percuma," katanya.
Sebelumnya, dalam kunjungan ke Bandung, Chakib menilai Indonesia mempunyai posisi strategis dalam industri perminyakan di dunia. Potensi pertambangan minyak di Indonesia masih besar dan dapat dioptimalkan dengan membuka pintu investasi seluas-luasnya.
Sumber: KOMPAS
|