 | Sabtu, 30 Agustus 2008 NEWS: Gubkepri dan Menlu Singapura Bahas FTZ BBK
BATAM (BP) - Gubkepri Ismeth Abdullah bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura Balji Sadasivan di Shoutlink Country Club, Jumat (29/8). Dalam jamuan makan siang itu, Gubkepri menyampaikan pelaksanaan free trade zone (FTZ) Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) yang berangsur-angsur sudah ada kemajuan. Saat itu juga Ismeth menyampaikan bahwa FTZ di BBK saat ini sudah bentuk kelembagaan (dewan kawasan), terutama untuk Bintan dan Karimun. Sedangkan DK FTZ Batam akan bisa diselesaikan September nanti.
Kedatangan Balji Sadasivan ke Batam dalam rangka menghadiri acara perayaan ulang tahun Negara Singapura di Planet Holiday Hotel kemarin malam, langsung menyambut baik kemajuan yang dicapai FTZ di BBK. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepri, Jon Arizal yang ikut dalam pertemuan itu, kemarin.
Disebutkan Jonlagi, gubernur menegaskan tim percepatan FTZ dan Bea Cukai (BC) Batam juga akan berangkat ke Jakarta mempertanyakan tentang PP 63 kepada Dirjen BC dan Keuangan, pekan depan. Soalnya, dengan terlaksana FTZ di BBK secara langsung sudah ada kemudahan yang didapat pelaku usaha. ”Substansinya, sudah bebas bea masuk, PPN, PPNBM, dan cukai,” katanya. Dalam beberapa kali rapat di pusat, kata Jon Arizal, Menkeu selalu menegaskan bahwa kawasan harus berada di luar daerah pabean, bebas pajak tadi. ”Penyelesaian PP 63 itu juga telah kita sampaikan melalui sekretaris menteri ekonomi,” katanya.
Dengan pencapaian itu, lanjutnya, hubungan Kepri, Singapore dan Indonesia bisa lebih ditingkatkan. ”Baik peningkatan investasi maupun ekspor,” tuturnya. Menanggapi adanya perkembangan proses pelaksanaan FTZ di BBK tersebut, Menteri Luar Negeri Singapura mengatakan, jika benar telah ada perkembangan FTZ berarti BBK semakin komptetitif, menggairahkan serta bisa bersaing dengan FTZ negara lain seperti Malaysia, Vietnam, dan China.
”Intinya Singapura sangat mendukung perkembangan pelaksanaan FTZ di Batam, Bintan, dan Karimun,” ujar Balji yang ditirukan Jon Arijal. Jon Arizal menambahkan, dari informasi yang ia terima bahwa biaya produksi dan biaya hidup di China juga sudah mulai dirasakan tinggi oleh pengusahanya.
Artinya dalam waktu dekat akan ada pelarian investasi dari China ke Batam, Bintan dan Karimun. Ini merupakan peluang yang harus ditangkap oleh BBK. ”Selain itu investor dari Jepang dan Amerika juga akan datang,” ungkapnya.
Sumber: BATAMPOS
|