 | Jumat, 5 September 2008 NEWS: Turun Lagi, Minyak di 107 Dollar AS
NEW YORK, KAMIS — Harga minyak dunia kembali turun, Kamis (4/9), seiring menguatnya dollar AS terhadap euro di tengah memburuknya ekonomi zona euro.
Minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Oktober, di New York Mercantile Exchange, merosot 1,46 dollar AS ditutup pada 107,89 dollar AS per barrel. Posisi ini merupakan yang terendah dalam lima bulan terakhir ini. Harga minyak mentah, yang telah mencapai rekor tertinggi 147,27 dollar AS pada 11 Juli di New York, telah kehilangan hampir 40 dollar AS dalam kurang dari dua bulan.
Banyak analis memperkirakan, harga minyak mentah akan terus turun karena melemahnya permintaan di tengah melambatnya ekonomi global. Sementara di London, minyak mentah Brent pengiriman Oktober jatuh 1,76 dollar AS pada 106,30 dollar AS per barrel.
Harga light sweet naik pada awal sesi, tapi kehilangan momentum karena euro melemah terhadap dollar AS setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas proyeksi pertumbuhan zona euro untuk 2008 dan 2009.
Mata uang tunggal Eropa jatuh ke posisi terendah sejak 21 Desember 2007, terhadap dollar AS pada 1,4326 dollar AS. Dollar AS juga mendapat dukungan dari sebuah survei Institute for Supply Management yang menunjukkan aktivitas sektor jasa AS tak terduga "rebound" pada Agustus.
Menguatnya mata uang AS ini membuat komoditas dalam denominasi dollar AS menjadi lebih mahal untuk para pembeli yang menggunakan mata uang melemah.
Sementara Departemen Energi AS (DoE) mengatakan, stok minyak mentah AS telah berkurang 1,9 juta barrel dalam pekan yang berakhir 29 Agustus, lebih besar dari proyeksi para analis. Sedangkan minyak hasil penyulingan (destilasi), yang termasuk bahan bakar pemanas, turun 400.000 barrel pekan lalu, walaupun para analis telah memperkirakan turun lebih besar 600.000 barrel. Minyak destilasi dipantau dengan seksama oleh pasar jelang musim dingin di belahan bumi utara.
Laporan terakhir DoE dipublikasikan terlambat satu hari dari biasanya karena Senin adalah Hari Buruh di Amerika Serikat.
Pasar minyak juga menunggu hasil pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Selasa depan (9/9) di tengah spekulasi akan memangkas produksinya jika harga minyak turun di bawah 100 dollar AS. "Penurunan harga minyak yang cepat merangsang reaksi agresif dari OPEC. Buktinya, di sana sekarang tampak sebuah konsensus yang terbangun dalam klompok itu untuk menurunkan produksinya. Debat pada pertemuan pekan depan di Wina akan menjadi ukuran dari penurunan produksi tersebut," kata John Kilduff dari Alaron Trading.
Anggota OPEC, Nigeria, mengatakan, Kamis, pihaknya menjaga opsi terbuka pada kuota produksi dalam pertemuan pekan depan di tengah gelombang penurunan harga minyak. "Saya mempertahankan sebuah pemikiran terbuka," kata Menteri Yunior Perminyakan Odein Ajumogobia kepada AFP menjelang pertemuan di Wina, kantor pusat OPEC, Selasa.
OPEC beranggotakan 13 negara, termasuk Arab Saudi dan Iran, yang memproduksi 40 persen minyak dunia.
Sumber: KOMPAS
|